sehabat

 

Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau, hiduplah dua sahabat bernama Raka dan Bima. Sejak kecil mereka tak pernah terpisahkan—bermain layangan di padang, memancing di sungai kecil di belakang rumah, hingga belajar bersama di bawah pohon mangga tua yang rindang.

Raka adalah anak yang cerdas dan tenang, sedangkan Bima lebih ceria dan penuh semangat. Keduanya saling melengkapi seperti matahari dan langit yang tak pernah bisa berdiri sendiri.

Suatu hari, kabar datang bahwa Bima akan pindah ke kota besar karena ayahnya mendapat pekerjaan baru. Raka terdiam. Hatinya terasa berat. Ia tak bisa membayangkan hari-harinya tanpa sahabat yang selalu ada di sisinya.

Malam sebelum Bima pergi, mereka duduk di bawah pohon mangga yang sama.
“Ka, kamu janji ya... kita tetap sahabat meski jarak memisahkan,” kata Bima sambil menatap langit penuh bintang.
Raka tersenyum kecil. “Iya, Bi. Persahabatan kita nggak akan hilang cuma karena jarak. Kan bintang juga tetap bersinar walau jauh dari bumi.”

Mereka berdua tertawa kecil. Di tangan mereka, ada dua batu kecil yang mereka ukir dengan inisial nama masing-masing—R dan B—lalu menanamnya di bawah pohon mangga itu.

Tahun demi tahun berlalu. Raka tetap tinggal di desa, sementara Bima tumbuh di kota besar. Mereka jarang berkomunikasi, namun setiap kali Raka melewati pohon mangga itu, ia selalu tersenyum, mengingat janji yang pernah mereka buat.

Suatu sore, setelah sekian lama, terdengar suara motor berhenti di depan rumah Raka.
“Raka!” panggil seseorang dengan suara yang begitu familiar.
Raka berlari keluar dan melihat Bima berdiri di sana, lebih dewasa tapi masih dengan senyum yang sama.

Tanpa banyak kata, mereka berjalan menuju pohon mangga itu. Batu kecil dengan huruf R dan B masih tertanam di tanah, tak berubah sedikit pun.

Bima menepuk bahu Raka dan berkata, “Aku kembali, Ka. Seperti yang kita janjikan—persahabatan nggak akan hilang, kan?”
Raka tersenyum lebar. “Nggak akan pernah, Bi. Karena sahabat sejati selalu menemukan jalan pulang.”

Komentar